Home » » Siapkah Sektor Pariwisata Menghadapi New Normal?

Siapkah Sektor Pariwisata Menghadapi New Normal?

Menjaga jarak dan menghindari kerumunan menjadi bagian dari upaya pencegahan dan pemutusan rantai penyebaran covid-19 dalam negeri. Kebijakan ini kemudian berimbas ke sektor ekonomi yang mengakibatkan para pelaku usaha harus menghentikan sementara kegiatan bisnis mereka. Tidak terkecuali mereka yang berkecimpung di industri pariwisata, dimana objek-objek wisata harus ditutup sementara sehingga banyak pihak kemudian kehilangan mata pencaharian.

Siapkah Sektor Pariwisata Menghadapi New Normal

Persiapan pariwisata menuju new normal

Sejak pemerintah mengumumkan fase kehidupan baru atau yang sering disebut New Normal, banyak warga yang sangat antusias meskipun sebagian juga masih merasa khawatir. Dalam era ini, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilonggarkan, tetapi semua orang wajib mengikuti protokol kesehatan yang diarahkan pemerintah.

Salah satu hal yang ingin dilakukan warga dengan kelonggaran PSBB yaitu pergi berlibur. Pertanyaannya, apakah para pelaku usaha di sektor wisata sudah menyiapkan segala sesuatunya? 

Untuk memasuki new normal pariwisata, pemerintah telah menyiapkan serangkaian Standar Operasional Prosedur (SOP). Standar tersebut terkait dengan protokol kesehatan yang harus ada di setiap objek wisata yang meliputi cleanliness (kebersihan), healthy (kesehatan) dan safety (keamanan) atau CHS. Berdasarkan poin-poin tersebut, pengamat pariwisata, Sapta Nirwandar menambahkan bahwa industri pariwisata harus bisa beradaptasi dengan baik. Diantaranya dengan menjalankan langkah-langkah berikut:
  • Modifikasi cara kerja untuk menerapkan perilaku touchless atau minim sentuhan.
  • Fasilitas sanitasi harus diperbaiki untuk menyesuaikan protokol kesehatan
  • Setiap pekerja di sektor wisata harus menjalani pemeriksaan kesehatan dan memperoleh sertifikat kesehatan untuk memberikan rasa aman pada para wisatawan.
  • Mengakomodasi kebutuhan makanan dan minuman yang aman bagi kesehatan pengunjung terkait pencegahan virus corona, seperti penyediaan wadah makanan sekali pakai
  • Ada share responsibilities atau sikap berbagi tanggung jawab antara pelaku usaha dan pengunjung

Pembukaan kembali objek-objek wisata tentu disambut baik oleh para pelaku usaha di sektor tersebut. Akan tetapi ada satu hal yang masih menjadi permasalahan, terutama bagi agen perjalanan, yaitu kesulitan mengurus dokumen kesehatan yang dijadikan syarat untuk bepergian.

Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mengikuti rapid test, swab dan lainnya. maka dari itu, orang harus berpikir terlebih dahulu, jika kondisi tersebut tidak segera diatasi, para pengusaha di sektor wisata khawatir tidak akan memperoleh pengunjung. Harapannya, pemerintah akan menyediakan layanan test swab dengan harga khusus bagi wisatawan.

Selain itu, kondisi lain yang harus menjadi tantangan pelaku usaha di industri pariwisata adalah nilai investasi yang harus digelontorkan demi mengikuti protokol kesehatan pencegahan penyebaran covid-19. Misalnya tentang aturan jumlah penumpang bus dibatasi 40 orang. Jika ternyata wisatawan yang akan datang melebihi angka tersebut, maka mereka harus menyewa bus tambahan yang tentunya akan menambah beban biaya perjalanan.

Kesiapan menghadapi new normal pariwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pelaku usaha saja. Tetapi harus ada kerja sama dengan pemerintah dan para wisatawan. masyarakat yang ingin berwisata wajib mengikuti prosedur kesehatan yang telah ditetapkan agar semua bisa saling menjaga dari terpapar virus corona. jangan sampai ada klaster baru yang muncul di lokasi-lokasi wisata.

0 komentar:

Posting Komentar